Powered By Blogger
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Keuangan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2011

Penilaian Obligasi (Bond Valuation)

Obligasi adalah kontrak jangka panjang dimana peminjam setuju untuk melakukan pembayaran, bunga dan pokok pinjaman, pada tanggal tertentu kepada pemegang obligasi.

Pihak-pihak yang menerbitkan obligasi
• Pemerintah.
• Perusahaan.
• Pemerintah Negara Bagian.
• Pemerintah Asing Atau Perusahaan Asing.

Jenis-jenis obligasi berdasarkan yang menerbitkan :

• Treasury Bond
Diterbitkan oleh pemerintah pusat, bisa departemen keuangan atau bank indonesia..
Tidak memiliki risiko kegagalan.
Harga obligasi akan menurun jika suku bunga naik.

• Corporate Bond
Diterbitkan oleh perusahaan.
Memiliki risiko kegagalan jika penerbit obligasi memiliki masalah.
Risiko kegagalan berbeda-beda pada perusahaan yang berbeda, tergantung dari karakteristik penerbit dan jangka waktunya.
Semakin tinggi tingkat risiko kegagalan, semakin tinggi tingkat suku bunga yang harus dibayar oleh penerbit.

• Municipal Bond
Diterbitkan oleh pemerintah negara bagian dan lokal.
Memiliki risiko kegagalan.
Jika pemegangnya adalah penduduk setempat, dibebaskan dari pajak federal dan pajak negara bagian tersebut.
Memiliki suku bunga yang lebih rendah dari obligasi perusahaan, dengan risiko yang sama.

• Foreign Bond
Diterbitkan oleh pemerintah asing atau perusahaan asing.
Dihadapkan pada risiko kegagalan.
Ada tambahan risiko jika diterbitkan dalam mata uang asing.

Beberapa karakteristik utama yang dimiliki oleh obligasi antara lain :
• Nilai nominal (Nilai pari), adalah nilai nominal yang ditetapkan atas obligasi.
• Nilai Intrinsik, adalah merupakan nilai teoritis dari suatu obligasi. Diperoleh dari hasil estimasi nilai saat ini (PV) dari semua aliran kas obligasi dimasa yang akan datang.
• Suku Bunga Kupon, merupakan suku bunga tahunan yang ditetapkan atas obligasi.
• Peringkat Obligasi, penilaian atas risiko obligasi yang mungkin terjadi kemudian.
• Suku Bunga Mengambang, suku bunga ditentukan selama periode tertentu (6 bulan), setelah itu disesuaikan setiap 6 bulan berdasarkan suku bunga pasar.
• Suku Bunga Nol, merupakan obligasi yang tidak membayar bunga tahunan.
• Tanggal Jatuh Tempo, merupakan umur obligasi dimana nilai nominal obligasi harus dibayar.
• Provisi Penarikan, merupakan provisi dalam kontrak obligasi yang memberikan hak kepada penerbit untuk menebus obligasi pada jangka waktu tertentu sebelum tanggal jatuh tempo normal.
• Dana Pelunasan, premi dana pelunasan merupakan provisi dalam kontrak obligasi yang mengharuskan penerbit untuk menarik sebagian dari obligasi setiap tahun.
• Indenture, perjanjian legal antara perusahaan penerbit obligasi dengan dewan wali atau wali obligasi yang mewakili para pemilik atau pembeli obligasi.
• Tingkat penghasilan sekarang, rasio pembayaran tahunan terhadap harga obligasi di pasar.

Pada tahun 1909 diperkenalkan peringkat obligasi oleh John Moody, pringkat obligasi mencakup penilaian atas risiko obligasi yang mungkin terjadi kemudian. Peringkat obligasi mulai dari AAA, AA,A, BBB, BB, B, CCC, CC,C, sampai D.
Pialang pertama yang mengunakan peringkat obligasi adalah :
- Moody’s standard and poor’s
- Fitch investor service

Variabel-variabel yang mempengaruhi peringkat obligasi :
• Proporsi modal terhadap utang.
• Tingkat profitabilitas perusahaan.
• Tingkat kepastian dalam menghasilkan pendapatan.
• Besar kecilnya perusahaan.
• Jumlah pinjaman subordinasi yang dikeluarkan perusahaan.

Jenis-jenis obligasi :

• Obligasi dengan jaminan (mortegage bond), adalah obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan dengan menggunakan jaminan suatu aktiva riil.

• Obligasi tanpa jaminan (debentures atau unsecured bond) adalah suatu obligasi yang diterbitkan tanpa menggunakan suatu jaminan aktiva riil tertentu.

• Obligasi konversi (convertible bond), adalah suatu obligasi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk mengkonversikan obligasi tersebut dengan sejumlah saham perusahaan dengan harga yang sudah ditentukan, sehingga pemegang obligasi memperoleh kesempatan untuk memperoleh capital gain.

• Obligasi yang disertai wararnt, warrant adalah opsi yang mengijinkan pemegang obligasi untuk membeli saham pada harga yang sudah ditetapkan.

• Obligasi tanpa kupon, adalah obligasi yang tidak memberikan pembayaran bunga (zero coupon bond).

• Obligasi dengan tingkat bunga mengambang, adalah obligasi yang memberikan tingkat bunga yang besarnya disesuaikan dengan fluktuasi tingkat bunga pasar yang berlaku.

• Putable bond, adalah obligasi yang memberikan hak kepada pemegang obligasi untuk menerima pelunasan obligasi sesuai dengan nilai par sebelum jatuh tempo.

• Obligasi pendapatan (income bond), merupakan obligasi yang hanya membayar bunga jika laba telah diperole.

• Obligasi indeks, merupakan obligasi yang pembayaran bunganya didasarkan atas indeks inflasi sehingga melindungi pemegang obligasi dari inflasi.

• Junk bond, adalah obligasi yang memberikan tingkat keuntungan yang tinggi, tetapi juga mengandung risiko yang sangat tinggi pula.

• Surat utang subordinasi, surat utang yang berada dibawah surat utang biasa yang akan dibayar setelah surat utangya dipenuhi

• Obligasi euro (eurobonds), obligasi yang dikeluarkan oleh suatu negara dengan mata uang yang berbeda dengan mata uang obligasi itu
 
• Obligasi gadai, obligasi yang dijamin dengan tanah atau rumah

• Obligasi murahan, obligasi berperingkat “ bb “ kebawah

Penilaian risiko obligasi dapat dilakukan dengan melihat :
• Risiko suku bunga.
• Risiko tingkat reinvestasi.
• Risiko kegagalan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi harga obligasi :
• Jangka waktu sebelum obligasi jatuh tempo.
• Risiko untuk tidak menerima bunga maupun poko pinjaman.
• Status pajak dari pemberi obligasi.
• Adanya provisi yang memungkinkan penerbit obligasi melunasi obligasi tersebut sebelum jatuh tempo.
• Jumlah coupon.

Penilaian Saham (Stock Valuation)


Saham adalah salah satu sekuritas yang diperdagangkan di bursa efek. Saham didefinisikan sebagai penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan usaha dalam suatu perusahaan. Pemegang saham adalah pemilik dari sebuah perusahaan, oleh karena itu pemegang saham bisa memiliki hak untuk memilih direktur-direktur perusahaan yang selanjutnya nakan memilih para fungsional dan manajer yang akan mengelola bisnis.

Jenis-jenis saham berdasarkan cara peralihan hak :
1. Saham atas unjuk (bearer stock).
2. Saham atas nama (registered stock).

Jenis-jenis saham berdasarkan hak tagihan (klaim) :
1. Saham biasa.
2. Saham preferen, yang kemudian dapat diklasifikasikan menjadi :
• Cummulative Prefered Stocks.
• Non Cummulative Prefered.
• Participating Prefered Stocks.

Pemegang saham dapat hadir dalam rapat umum pemegang saham dan memilih secaara langsung. Tetapi pada umumnya mereka mengalihkan hak pilih mereka kepada pihak kedua melalui suatu mandate. Namun, jika tingkat keuntungan memburuk dan para pemegang saham merasa tidak puas, kelompok luar mungkin dapat mengambil mandate tersebut sebagai usaha untuk menggulingkan manajemen dan mengambil alih bisnis. Hal ini dikenal dengan perebutan mandate (proxy fight).

Beberapa metode penilaian harga saham yang bisa digunakan antara lain :
1. Zero Growth.
Dengan menggunakan asumsi bahwa dividen tetap sama untuk selamanya, dan karena arus kas masa depan konstan maka nilai dari zero growth stock adalah present value of perpetuity.

2. Constant Growth.
Dengan menggunakan asumsi bahwa dividen akan tumbuh pada tingkat yang konstan selamanya, dank arena arus kas masa depan tumbuh pada tingkat yang konstan selamanya maka nilai dari constant growth stock adalah present value of a growing perpetuity.

3. Differential Growth.
Dengan menggunkan asumsi bahwa dividen akan tumbuh pada tingkat yang berbeda-beda untuk waktu tertentu dan setelah itu tumbuh pada tingkat yang konstan selamanya. Untuk melakukan penilaian differential growth stock, dibutuhkan data :
• Estimasi dividen di masa depan untuk waktu tertentu.
• Estimasi harga saham di masa depan pada saat saham menjadi constant growth stock.
• Hitunglah total present value dari dividen di masa depan dan harga saham yang telah diestimasi dengan discount rate yang sesuai.

4. Kesempatan Pertumbuhan.
Growth opportunities adalah peluang untuk investasi diproyek dengan NPV positif. Nilai dari sebuah perusahaan dapat dikonsepkan dengan penjumlahan dari perusahaan yang membayar seluruh (100%) pendapatan sebagai dividen dan NPV growth opportunities.

5. Present Value.

Peramalan (Forecasting)

I. Definisi dan Perspektif Peramalan (Forecasting)
Peramalan (forecasting) adalah seni dan ilmu untuk memperikirakan kejadian di masa depan. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan pengambilan data masa lalu dan menempatkannya ke masa yang akan datang dengan suatu bentuk model yang matematis, dan bisa juga dalam bentuk prediksi intuisi yang bersifat subjektif. Ataupun bisa juga dengan menggunakan kombinasi model matematis yang disesuaikan dengan pertimbangan yang baik dari seorang manajer.

Peramalan biasanya dapat diklasifikasikan berdasarkan horizon waktu masa depan yang dicakupnya. Horizon waktu terbagi atas beberapa kategori antara lain :
1. Peramalan jangka pendek. Peramalan ini mancakup jangka waktu hingga 1 tahun tetapi umumnya kurang dari 3 bulan. Peramalan ini digunakan untuk merencanakan pembelian, penjadwalan kerja, penjualan, jumlah tenaga kerja, penugasan kerja, dan tingkat produksi.
2. Peramalan jangka menengah. Peramalan ini umumnya mencakup hitungan bulanan hingga waktu 3 tahun. Peramalan ini berguna untuk merencanakan penjualan, perencanaan dan anggaran produksi, anggaran kas, dan menganalisis bermacam-macam rencana operasi.
3. Peramalan jangka panjang. Umunya untuk waktu perencanaan masa 3 tahun atau lebih. Permalan jangka panjang digunakan untuk merencanakan produk baru, pembelanjaan modal, lokasi atau pengembangan fasilitas, serta penelitian dan pengembangan (litbang).

Selain berdasarkan horizon waktu, peramalan juga dapat diklasifikasi berdasarkan aspek strategis dalam perencanaan operasi di masa depan. Tipe ramalan tersebut antara lain :
1. Peramalan ekonomi (economic forecast), menjelaskan siklus bisnis dengan memprediksikan tingkat inflasi, ketersediaan uang, dana yang dibutuhkan untuk membangun perumahan, dan indicator perencanaan lainnya.
2. Peramalan teknologi (technological forecast), memperhatikan tingkat kemajuan teknologi yang dapat meluncurkan produk baru yang menarik, yang membutuhkan pabrik dan peralatan baru.
3. Peramalan permintaan (demand forecast), adalah proyeksi permintaan untuk produk atau layanan suatu perusahaan. Peramalan ini disebut juga Peramalan Penjualan yang mengendalikan produksi, kapasitas, serta sistem penjadwalan dan menjadi input bagi perencanaan keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia.

II. Kepentingan Strategis Peramalan
Peramalan yang baik sangat penting dalam semua aspek bisnis, karena permalan merupakan satu-satunya prediksi atas permintaan hingga permintaan yang sebenarnya diketahui. Peramalan permintaan mengendalikan keputusan di banyak bidang atau aktivitas, antara lain :
1. Sumber Daya Manusia.
Memperkerjakan, melatih, dan memberhentikan pekerja, semuanya bergantung pada permintaan. Jika departemen sumber daya manusia harus memperkerjakan pekerja tambahan tanpa adanya persiapan, akibatnya kualitas pelatihan menurun dan kualitas pekerja juga ikut mengalami penurunan.
2. Kapasitas.
Saat kapassitas tidak mencukupi, kekurangan yang diakibatkannya bisa berarti tidak terjaminnya pengiriman, kehilangan konsumen, dan kehilangan pangsa pasar.
3. Manajemen Rantai Pasokan.
Hubungan yang baik dengan pemasok, dan harga barang serta komponen yang bersaing, salah satunya dipengaruhi oleh keakuratan peramalan (forecasting) yang dilakukan oleh pihak manajemen.

III. Langkah-langkah Sistem Peramalan
Esensi dari peramalan adalah perkiraan peristiwa-peristiwa di waktu yang akan datang atas dasar pola-pola di waktu yang lalu dan penggunaan kebijakan terhadap proyeksi-proyeksi dengan pola-pola yang terdapat pada waktu yang lalu. Peramalan memerlukan kebijakan, sedangkan proyeksi-proyeksi merupakan bagian dari fungsi-fungsi mekanikal.
Proses peramalan terdiri dari beberapa langkah, antara lain :
a. Menetapkan tujuan peramalan.
b. Memilih unsur apa yang akan diramal.
c. Menentukan horizon waktu peramalan.
d. Memilih tipe model peramalan.
e. Mengumpulkan data yang diperlukan untuk melakukan peramalan.
f. Membuat peramalan.
g. Memvalidasi dan menerapkan hasil peramalan.
Terlepas dari suatu sistem permalan yang digunkan, setiap perusahaan atau entitas usaha menghadapi beberapa kenyataan, antara lain :
• Peramalan yang dilakukan tidak ada yang 100% akurat, dan terdapat standar deviasi pada masing-masing teknik dan atau pendekatan yang dilakukan.
• Hampir semua peramalan mengasumsikan bahwa sistem akan tetap stabil.
• Baik peramalan kelompok produk mapun peramalan secara keseluruhan lebih akurat daripada peramalan produk individu.

IV. Pendekatan Dalam Teknik Peramalan
Terdapat dua pendekatan umum peramalan, sebagaimana ada dua acara mengatasi semua model keputusan, yaitu :
a) Peramalan kualitatif (Qualitative Forecast), adalah pendekatan menggunkan model matematis yang beragam dengan data masa lalu dan variable sebab-akibat untuk meramalkan permintaan atau penjualan. Beberapa teknik yang biasa digunakan antara lain adalah :
• Metode Delphi, dimana pengambil keputusan terdiri dari 10 orang pakar yang akan melakukan peramalan, dengan menggunakan responden yang berbeda dimana penilaian dilakukan, dan kelompok ini juga memberikan input pada pengambilan keputusan sebelum peramlan dibuat.
• Keputusan dari pendapat juri eksekutif, dalam metode ini pendapat sekumpulan kecil manajer atau pakar tingkat tinggi, sering dikombinasikan dengan model statistik, dikumpulkan untuk mendapatkan prediksi permintaan kelompok.
• Gabungan dari tenaga penjualan, dalam pendekatan ini setiap tenaga penjualan memperkirakan berapa penjualan yang bisa dilakukan dalam wilayahnya.
• Survei pasar konsumen, metode ini meminta input dari konsumen mengenai rencana pembelian mereka di masa yang akan datang.
b) Peramalan kuantitatif (Quantitative Forecast), adalah pendekatan yang menggabungkan faktor seperti intuisi, emosi, pengalaman pribadi, dan sistem nilai pengambil keputusan untuk meramal. Lima metode yang dapat digunakan antara lain adalah :

i. Time series model :
• Rata-rata Bergerak (Moving Average), menggunakan sejumlah data aktual masa lalu untuk menghasilkan peramalan.

• Penghalusan Eksponensial, merupakan metode peramalan rata-rata bergerak dengan pembobotan yang telah dikembangkan lebih lanjut, namun masih bisa digunakan.

• Pendekatan Naif, adalah teknik peramalan yang mengasumsikan permintaan di periode mendatang sama dengan permintaan terkini.

• Proyeksi Tren, adalah metode peramalan time-series yang menyesuaikan sebuah garis tren pada sekumpulan data masa lalu, dan kemudian diproyeksikan untuk meramalkan masa depan, dan dapat menggunakan tren matematis (seperti eksponensial dan atau kuadratis).

ii. Associative model :
• Kuadrat Terkecil (Least Square Method), pendekatan ini menghasilkan sebuah garis lurus yang meminimalkan jumlah kuadrat dari deviasi vertikal garis pada setiap hasil pengamatan aktual.

V. Menghitung Kesalahan Peramalan
Terdapat beberapa perhitungan yang biasa digunakan untuk menghitung kesalahan peramalan (forecast error) total. Perhitungan ini dapat digunkan untuk membandingkan model peramalan yang berbeda, juga untuk mengawasi peramalan, dan untuk memastikan peramalan berjalan dengan baik. Tiga dari perhitungan tersebut antara lain adalah :
a) Mean Absolute Deviation (MAD), dimana nilai kesalahan dihitung dengan mengambil jumlah nilai absolut dari tiap kesalahan peramalan dibagi dengan jumlah periode data.

b) Mean Squared Error (MSE), dimana nilai kesalahan dihitung dengan menggunakan rata-rata selisih kuadrat antara nilai yang diramalkan dan diamati.

c) Mean Absolute Percent Error (MAPE), dimana kesalahan dihitung dengan menggunakan rata-rata diferensiasi absolut antara nilai yang diramal dengan nilai aktual, dan dinyatakan sebagai persentase nilai aktual. 

Jumat, 08 April 2011

Rasio Nilai Pasar

Rasio ini merupakan indikator untuk mengukur mahal murahnya suatu saham, digunakan untuk membantu investor dalam mencari saham yang memiliki potensi keuntungan dividen yang besar sebelum melakukan penanaman modal berupa saham. Namun rasio pasar tidak mempunyai ukuran yang menunjukan tingkat efesiensi rasio serta tidak dapat mencerminkan kinerja keuangan perusahaan secara keseluruhan jika dilihat berdasarkan harga saham maupun jika dipergunakan oleh pihak manajemen perusahaan.

Rasio pasar merupakan sekumpulan rasio yang menghubungkan harga saham dengan laba, nilai buku per saham, dan dividen. Rasio ini memberikan petunjuk mengenai apa yang dipikirkan invenstor atas kinerja perusahaan di masa lalu serta prospek di masa mendatang (Moeljadi, 2006:75).
Rasio ini memberikan informasi seberapa besar masyarakat (investor) atau para pemegang saham menghargai perusahaan, sehingga mereka mau membeli saham perusahaan dengan harga yang lebih tinggi dibanding dengan nilai buku saham (Sutrisno, 2003:256). 

Rasio pasar mengukur harga pasar saham perusahaan relatif terhadap nilai bukunya. Sudut pandang rasio ini lebih banyak berdasarkan pada sudut pandang investor ataupun calon investor, meskipun pihak manajemen, juga berkepentingan dalam rasio ini. Rasio modal saham atau rasio pasar terdiri dari :

1. Rasio Pendapatan Per Lembar Saham (Earning Per Share)
Earning Per Share (EPS) biasanya menjadi perhatian pemegang saham pada umumnya atau calon pemegang saham dan manajmen. EPS menunjukan jumlah uang yang dihasilkan (return) dari setiap lembar saham. Semakin besar nilai EPS semakin besar keuntungan yang diterima pemegang saham.
Seorang investor membeli dan mempertahankan saham suatu perusahaan dengan harapan akan memperoleh dividen atau capital gain. Laba biasanya menjadi dasar penentuan pembayaran dividen dan kenaikan harga saham di masa mendatang. Oleh karena itu, para pemegang saham biasanya tertarik dengan angka EPS yang dilaporkan perusahaan. EPS hanya dihitung untuk saham biasa.
EPS = (Laba bersih bagi pemegang saham biasa) / jumlah saham beredar

2. Rasio Harga Laba (Price Earning Ratio)
Price Earning Ratio (PER) menunjukan berapa banyak investor bersedia membayar untuk tiap rupiah dari laba yang dilaporkan.
Oleh para investor rasio ini digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba di masa yang akan datang. Kesedian para investor untuk menerima kenaikan PER sangat bergantung pada prospek perusahaan. Perusahaan dengan peluang tingkat pertumbuhan yang tinggi, biasanya memiliki PER yang tinggi. Sebaliknya perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang rendah cenderung memiliki PER yang rendah.
PER = Harga pasar per lembar saham / Pendapatan per lembar saham

3. Rasio Pasar Per Buku (Price To Book Value Ratio)
Rasio ini menunjukan berapa besar nilai perusahaan dari apa yang telah atau sedang ditanamkan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio ini, semakin besar tambahan kekayaan (wealth) yang dinikmati oleh pemilik perusahaan (Husnan, 2006:76)
Jika harga pasar berada di bawah nilai bukunya, investor memandang bahwa perusahaan tidak cukup potensial. Bila seorang investor pesimis atas prospek suatu saham, maka banyak saham dijual pada harga di bawah nilai bukunya. Sebaliknya jika investor optimis maka saham dijual dengan harga di atas nilai bukunya.
Book value per share (nilai buku per saham) dihitung dengan membagi ekuitas saham biasa dengan jumlah saham yang beredar.
PBV = Harga pasar per saham / Nilai buku per saham

4. Rasio Pendapatan Dividen (Dividend Yield Ratio)
Dividen yield merupakan sebagian dari total return yang akan diperoleh investor. Biasanya perusahaan yang mempunyai prospek pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai dividend yield yang rendah, karena dividen sebagian besar akan diinvestasikan kembali. Kemudian karena perusahaan dengan prospek yang tinggi akan mempunyai harga pasar saham yang tinggi, yang berarti pembaginya tinggi, maka dividend yield untuk perusahaan semacam ini akan cenderung lebih rendah.
DY = Dividen per lembar saham / Harga per lembar saham

5. Rasio Pembayaran Dividen (Dividend Payout Ratio)
Rasio ini melihat bagian pendapatan yang dibayarkan sebagai dividen kepada investor sedangkan bagian lain yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali ke perusahaan.
Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah. Sebaliknya perusahaan yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai raio yang tinggi. Pembayaran dividen juga merupakan kebijakan dividen perusahaan. Semakin besar rasio ini maka semakin lambat atau kecil pertumbuhan pendapatan perusahaan.
DPR = (Dividen per lembar saham / Pendapatan per lembar saham) x 100%

Contoh Soal :

PT. Mulialand (MLND) pada tahun 2000 membayar dividen sebesar Rp 15, 120 Milyar. Laba bersih yang diperoleh Rp 92, 776442 Milyar. Sampai akhir tahun tersebut jumlah saham beredar 378 juta lembar saham. Nilai buku per saham adalah Rp 378 Milyar dan harga saham MLND di pasar Rp 1.450.
 DPS = Rp Rp15, 120 Milyar / 378 juta = Rp 40
 EPS = Rp 92, 776442 / 378 juta = Rp 245
 DPR = Rp 40 / Rp 245 = 16,32%
 PER = Rp 1.450 / Rp 245 = 5,2x.
 PBV = Rp 1.450 / Rp 1.000 = 1,45.
 Dividend Yield = Rp 40 / Rp 1.450 = 2,75%.

Capital Asset Pricing Model

Adalah suatu model yang dikembangkan oleh Sharpe, Lintner, dan Mossin (1964-1965) berdasarkan model normative dari Harry Markowitz. Model ini mencoba menganalisis hubungan antra risiko dan tingkat pengembalian. Model ini didasari oleh suatu preposisi bahwa setiap required rate of return saham sama dengan risk free rate ditambah dengan suatu premium risk.
Dalam hal standar CAPM, asumsi-asumsi yang dipergunakan adalah sebagai berikut :
• Diasumsikan tidak ada biaya transaksi.
• Diasumsikan bahwa investasi sepenuhnya dapat dipecah-pecah (fully diversible).
• Diasumsikan tidak ada pajak penghasilan bagi para pemodal.
• Diasumsikan bahwa pemodal tidak bisa mempengaruhi harga saham dengan tindakan membeli ataupun menjual.
• Para pemodal diassumsikan akan bertindak semata-mata atas pertimbangan expected value dengan deviasi standar tingkat keuntungan portofolio.
• Diasumsikan bahwa pemodal bisa melakukan short selling.
• Diasumsikan terdapat riskless and borrowing rate, sehingga pemodal bisa menyimpan dan meminjam dengan tingkat bunga yang sama.
• Pemodal diasumsikan mempunyai pengharapan yang homogen.
• Diasumsikan bahwa semua aktiva bisa diperjualbelikan.

Terdapat dua jenis risiko berkaitan dengan investasi dalam portofolio, yaitu :
1. Diversibel Risk / Unsystematic Risk / Company Spesific Risk, yaitu risiko yang dapat dihilangkan atau diminimalisir dengan cara melakukan diversifikasi.
2. Nondiversible Risk / Systematic Risk / Market Risk, yaitu risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan diversifikasi.

Hubungan antara risiko dan tingkat pengembalian akan tervisualisasi dalam Security Market Line (SML). Risiko yang relevan diperhitungkan adalah risiko sistematis yang dinotasikan dengan β (Beta Coefficient).
Rumus standar CAPM adalah sebagai berikut :
Rj = RRF + (RM-RF)βj

Keterangan :
Rj = required rate of return dari saham j.
RRF = risk free rate of return.
(RM-RF) = market risk premium.
βj = beta coefficient dari saham j.