Rabu, 13 April 2011

AS Halangi Eropa Damaikan Timur Tengah

KOMPAS.com — Amerika Serikat menghalangi upaya Eropa untuk misi perdamaian di Timur Tengah dalam pertemuan internasional pekan ini, kata sejumlah diplomat pada Selasa (12/4/2011).
Washington tidak setuju terhadap kuartet diplomatik Timur Tengah dalam pertemuan di Berlin pada Jumat, kata beberapa diplomat. Pejabat tinggi dari kuartet diplomatik, yang terdiri atas Amerika Serikat, Uni Eropa, Rusia, dan PBB, telah menunda pertemuan yang dijadwalkan pada Maret.
Inggris, Perancis, dan Jerman ingin menggunakan pertemuan kuartet diplomatik Timur Tengah untuk mengusulkan skema penyelesaian terakhir konflik Palestina-Israel.
Mereka berharap pernyataan dari kuartet diplomatik Timur Tengah yang akan menetapkan kerangka kesepakatan, seperti perbatasan dan persyaratan keamanan, dapat menjalankan kembali pembicaraan langsung antara Palestina dan Israel.
Menegaskan kekecewaan dari ketiga negara itu, seorang diplomat Eropa mengatakan, "Kami berpendapat ini merupakan waktu yang sangat mendesak untuk kuartet untuk menyatakan pesan politik yang kuat, jadi kami menyesali pertemuan ini tidak dapat diadakan."
"Tingkat frustrasi meningkat di pihak Palestina," kata seorang diplomat dari negara UE lainnya. Kedua diplomat berkomentar dengan syarat identitasnya dirahasiakan.
Amerika Serikat menetapkan tenggat waktu pada September tahun ini untuk ketetapan atas pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Pembicaraan langsung Palestina-Israel berakhir pada akhir September lalu ketika Israel menolak untuk memperpanjang moratorium mengenai pembangunan permukiman di wilayah terjajah.
Israel memaksa bahwa seluruh permasalahan, termasuk permukiman, harus disepakati dalam pembicaraan langsung. AS memveto resolusi Arab yang diajukan ke Dewan Keamanan PBB pada Februari yang akan mengecam permukiman Israel.
Jerman, Perancis, dan Inggris menyatakan kekhawatiran setelah jajak pendapat mengenai Timur Tengah mengalami kebuntuan. Dalam kunjungan ke Israel pekan lalu, Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar membuat kemajuan dalam proses perdamaian tersebut.

Sumber : ANT, AFP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar