Sabtu, 21 Mei 2011

Pengantar Manajemen Stratejik

A. Definisi Manajemen Stratejik

Terdapat dua elemen utama yang merupakan inti dari manajemen stratejik. Pertama manajemen stratejik memerlukan tiga proses yang berkelanjutan yaitu :

· Analisis. Manajemen stratejik menitik beratkan pada analisis hierarki tujuan stratejik (visi, misi, dan sasaran stratejik) bersamaan dengan analisis lingkungan internal dan eksternal organisasi.

· Keputusan. Dilakukan dengan menjawab dua pertanyaan dasar yaitu, dalam industri apa seharusnya perusahaan bersaing ? Dan bagaimana seharusnya perusahaan berkompetisi dalam industri tersebut ?

· Aksi. Perusahaan harus membuat aksi-aksi yang dirasa perlu untuk mengimplementasikan strategi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk mengalokasikan sumber daya yang diperlukan dan mendesain organisasi agar strategi yang dipilih menjadi sebuah kenyataan.

Kedua, inti manajemen stratejik adalah mempelajari mengapa perusahaan mampu memliki kinerja yang mengungguli perusahaan lain. Hal ini berarti menitikberatkan pada dua pertanyaan utama yaitu :

· Bagaimana perusahaan harus bersaing dalam rangka menciptakan keunggulan kompetitif di pasar ?

· Bagaimana caranya mempertahankan sebuah keuntungan kompetitif yang berkesinambungan dan bukan hanya bersifat temporer.

Empat atribut utama yang dimiliki oleh manajemen stratejik adalah :

1. Manajemen stratejik ditujukan untuk semua tujuan dan sasaran organisasi.

2. Manajemen stratejik melibatkan semua stakeholders ketika membuat suatu keputusan.

3. Manajemen stratejik membutuhkan penggabungan antara perspektif jangka pendek dan jangka panjang (creative tension).

4. Manajemen stratejik juga meliputi kesadaran akan trade-off antara efektivitas dan efisiensi.


B. Mengapa Mempelajari Strategi

Strategi sangat penting untuk menentukan kesuksesan organisasi, sehingga inilah yang menjadi alas an mengapa mempeljari strategi menjadi sangat bermanfaat dan menjajikan. Dengan menggunakan manajemen strategic, manajer pada semua tingkat dari suatu perusahaan dapat berinteraksi dalam menyusun perencanaan strategic dan mengimplementasikan strategi.

Manfaat manajemen strategik antara lain adalah (Pearson & Robinson, 2003 : 10) :

· Formulasi strategi meningkatkan kemampuan perusahaan dalam mencegah masalah. Manajer yang mendorong stafnya untuk menyadari perencanaan justru akan diingatkan oleh stafnya dalam memantau dan memprediksi tanggung jawabnya karena mereka menjadi sadar tentang perlunya perencanaan strategic.

· Keputusan stratejik berbasis kelompok akan dapat ditarik dari berbagai alternative yang terbaik. Proses manajemen stratejik menghasilkan keputusan yang lebih baguss karena interaksi kelompok dalam perusahaan menghasilkan variasi strategis yang lebih banyak. Selain itu, prediksi berdasarkan perspektif angota kelompok dapat meningkatkan seleksi atas berbagai pilihan strategi.

· Dilibatkannya karyawan dalam memformulasi strategi akan meningkatkan pemahaman mereka mengenai hubungan produktivitas dan bonus dalam setiap rencana strategic, dan pada akhirnya meningkatkan motivasi mereka.

· Penolakan atas perubahan dapat dikurangi. Partisipasi dalam formulassi strategi akan membuat proses pengambilan keputusan menjadi demokratis dan jauh dari kesan otoriter.


C. Mengapa Mempelajari Ekonomika

Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dengan melihat strategi dari perspektif berbagai model dan disiplin ilmu. Kedalaman atas pengetahuan strategi sama pentingnya dengan pengetahuan strategi itu sendiri. Engan kata lain, akan lebih banyak lagi yang bisa didapat dari aplikasi ekonomika dalam ilmu strategi.

Manfaat ekonomika (economics) dalam menganalisis pengambilan keputusan, baik yang dilakukan perorangan ataupun organisasional adalah bahwa analisis ekonomika dapat digunakan untuk mengetahui elemen kunci dari proses yang dijalaninya. Model ekonomika dalam prosesnya harus dilakukan secara cermat dalam mengidentifikasi beberapa hal, yaitu :

· Pembuat keputusan. Siapakah para pembuat strategi ? keputusan siapa yang secara final menentukan untuk suatu situasi yang dihadapi ? sebagai contoh, apakah keputusan meningkatkan / menurunkan kapasitas produksi untuk perusahaan tertentu selama berada dalam horizon perencanaan suatu perusahaan perlu mempertimbangkan kembali ketika banyak buruh mogok atau mengundurkan diri.

· Tujuan. Apa yang ingin dicapai oleh para pembuat keputusan ? apakah mereka telah mampu mendapatkan keuntungan yang maksimal ? apakah mereka mempunyai minat di luar aspek keuangan ? bagaimana pembuat keputusan melakukan trade-off pada tujuan yang menimbulkan konflik.

· Pilihan. Aksi apa yang ingin dilakukan ? apa saja variable stratejiknya ? sebgai contoh, dapatkah perusahaan manugfaktur memilih tingkat kualitas yang berbeda ataukah kualitas itu sudah tetap ? kapan horizon waktu yang tepat untuk membuat keputusan ?

· Hubungan antara pilihan dan hasil. Mekanisme apa yang dapat membuat keputusan memberikan hasil tertentu ? apakah ada hubungan fungsi antara pilihan tertentu seperti harga dan pangsa pasar ? sebagai contoh, apakah perusahaan akan kehilangan pangsa pasarnya apabila pesaing tertentu menurunkan harga mereka ? apakah hubungan akan menjadi rumit dengan ketidakpastian factor seperti rasa, teknologi, atau pilihan dari pembuat keputusan yang lain ?

Sifat dasar dari model ekonomika adalah memudahkan aplikasi ilmu ekonomi terhadap berbagai masalah yang dapat terjadi. Sebagai contoh, ekonomika dapat digunakan untuk mempelajari keputusan pada kasus yang terjadi di pengadilan, pencucian uang, dan ekspor fiktif. Lebih jauh lagi, ekonomika memberikan perspektif yang luass, dari mulai memffokuskan interaksi perusahaan dalam industri hingga bagaimana interaksi individu dalam konteks suatu organisasi.

Di sisi lain, ekonomika memberikan model suatu abstraksi dari kompleksitas situasional yang dihadapi oleh individu dan perusahaan. Aplikasi ekonomika dalam situasi tertentu membutuhkan kreativitas dan sentuhan yang dalam agar dapat melihat lebih jauh mengenai situasi yang dihadapinya. Selain itu, pengetahuan tentang kesalahan yang pernah dilakukan perusahaan, sejarah perusahaan, factor organisasi dan politik juga dibutuhkan. Proses manajemen implementasi dari keputusan stratejik yang diambil dari perubahan yang terjadi secara alami di dalam perusahaan merupakan suatu hal penting, karena hal ini akan berhubungan dengan sukses tidaknya perusahaan memilih dan melaksanakan strategi.

D. Globalisasi daan Tantangan Manajemen Stratejik

Berbagai peristiwa penting telah mewarnai dan membentuk ekonomi global. Diantaranya adaalah krisis sistem moneter internasional (Bretton Woods), bubarnya Uni Soviet yang diikuti dengan kecenderungan menuju free market socialism krisis utang luar negeri, krisis minyak dan komoditass primer lainnya, munculnya Negara-negara industri baru (NICs), terjadinya crash di pasar modal internasional, daan integrasi negara-negara Eropa menuju Uni Moneter Eropa (Union Europe). Semua kejadian tersebut baaik secara terpisah ataupun secara simultan menunjukkan bahwa kita hidup dalam dunia yang semakin terintegrasi dan globalisasi merupakan suatu keniscayaan.

D. 1. Globalisasi : Penyebab dan Dimensi

Factor pendorong utama terjadinya globalisasi menurut Holland (1987 : 11-15) adalah adanya dorongan investasi (investment push) yang dimulai dari Rencana Marshall (Marshall Plan), dan adanya GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) yang merupakan penarik utama di sisi permintaan (demand pull).

Globalisasi semakin kuat sebagi akibat terjadinya kecenderungan kepada (Kuncoro, 2001) :

· Aliran dana dan modal semakin mudah menembus batas Negara, mengukuhkan fenomena nationless dan borderless states.

· Investor asing semakin sering membeli dan menjual aset financial dan aset rill.

· Institusi-institusi keuangan asing semakin sering menembus pusat-pusat keungan dunia dan regional.

· Semakin banyak perusahaan mencatatkan dan menawarkan sahamnya di pasar modal internasional, sehingga memungkinkan transaksi saham berlangsung 24 jam.

· Liberalisasi dan deregulasi sector financial melanda hampir sebagian besar Negara di seluruh dunia.

Globalisasi yang terjadi selama dasawarsa terakhir, setidaknya mempunyai dan memberikan pengaruh kepada dua dimensi, yaitu :

1. Terjadinya pergeseran kekuatan ekonomi global, yang memunculkan tiga megamarkets ekonomi dunia, yaitu Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), Amerika Utara, dan Asia Timur serta Tenggara.

2. Globalisasi mendorong tumbuhnya dan berkembangnya perusahaan transnasional (TNC).


D. 2. Interdependensi Global

Secara umum globalisasi telah meengubah pola hubungan financial, proses produksi, perdagangan, teknologi informasi, dan hubungan ekonomi lainnya, yang pada akhirnya menimbulkan gejala menyatunya ekonomi semua bangsa dan interdependensi antar bangsa merupakan kata kunci dalam era globalisasi.

Interdependensi juga dialami oleh negara-negara yang awalnya tidak tergantung kepada negara lain. Sebagai contoh Amerika Serikat yang mengimpor dari negara sedang berkembang (NSB) berupa 80% kebutuhan minyak, 25% barang modal, dan 53% kebutuhan konsumsi.

Negara industri maju kebanyakan memang tergantung kepada suplai energy dan bahan mentah dari NSB, sedangkan NSB sendiri adalah pasar yang potensial bagi ekspor barang produksi negara maju.


D. 3. Tantangan Manajemen Stratejik

Saham yang memiliki kinerja terbaik (best performing stocks) bisa saja tidak termasuk di dalam daftar 10 tahun mendatang. Hal ini telah terjadi pada perusahaan yang termasuk ke dalam daftar “Perusahaan Paling Dikagumi” versi majalah Fortune, yaitu IBM yang dinobatkan sebagai perusahaan terbaik versi majalah Fortune tahun 1986, namun tahun 1995 IBM mengalami penurunan posisi secara drastis ke urutan 281.

Hal tersebut menunjukkan bahwa tujuan mencapai “daya saing stratejik” dan “penghasilan di atas rata-rata” selalu mendapatkan tantangan, terutama dari para pesaing dan kinerja perusahaan bukan hanya sekedar untuk memenuhi tantangan manajemen stratejik.

E. Peranan Manajemenn Stakeholders

Manajer dituntut dengan tuga utama yaitu memaksimalkan laba dan menghasilkan return yang memuaskan untuk para pemegang saham, yang merupakan para pemilik perusahaan. Manajemen perusahaan dikendalikan oleh dewan direksi (boards of directors) yang bertanggung jawab kepada para pemegang saham. Manajemen perusahaan menjalankan operasi perusahaan sehari-hari, sementara dewan direksi mengendalikan manajemen dan melindungi kepentingan para pemegang saham.

Stakeholders dapat didefinisikan sebagai individu atau kelompok, baik di dalam maupun di luar perusahaan yang mempunyai kepentingan terhadap keberlangsungan operasi perusahaan dan sekaligus dapat mempengaruhi kinerja organisasi.

Terdapat dua metode untuk melihat peranan manajemen stakeholders dalam proses manajemen stratejik (Dess & Lumpkin, 2003 : 18), yaitu :

1. Metode Zero Sum, dalam metode ini peranan manajemen adalah untuk melihat stakeholders berebut untuk mendapatkan perhatian dan sumber daya organisasi. Dengan pemikiran utama bahwa pendapatan dari satu individu atau kelompok adalah kehilangan bagi individu atau kelompok lain.

2. Metode Simbiosis Antar Stakeholders, dengan cara manajer mengakui adanya saling ketergantungan antara para karyawan, pemasok, konsumen, pemegang saham, dan masyarakat pada umunya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar